Jumat, 01 Februari 2013

Minoritas Islam di Dunia


MINORITAS ISLAM DI DUNIA



MAKALAH


Disusun sebagai tugas terstruktur pada mata kuliah

Sejarah Peradaban Islam



Oleh :

           Nama      : Yulianto

           NIM         : 211 313 7348








FAKULTAS SYARIAH

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

 BENGKULU

1433 H/201









KATA PENGANTAR



Kaum minoritas dalam julukan dan retorika di tingkat antarbangsa disebut the minorities atau minority groups. Kategori masyarakat sebagai fenomena sosial modern dan pascamodern ini merujuk kepada kelompok masyarakat, yang kebanyakan adalah MADAT yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kelompok masyarakat lain yang dominan.

Pengelompokkan menjadi kaum minoritas dapat dilakukan atas dasar perbedaan agama, ras, bahasa, paham politik (misalnya kaum komunis di Australia), asal-usul daerah (misalnya orang Afrika yang dibawa ke Amerika Serikat yang menjadi minoritas di sana), kelas sosial (seperti buruh dan majikan serta penganggur) ataupun perbedaan dalam pendapat (misalnya pendapat orang Papua untuk melepaskan diri dari NKRI atau pendapat tentang paham politik). Berdasarkan kenyataan yang ada kebanyakan kaum minoritas tergolong Masyarakat Adat.

Kebanyakan MADAT menjadi kaum minoritas karena begitu dekolonisasi terjadi. Akibatnya banyak sekali peta-peta kolonialisme yang telak dipetak menurut kepentingan perut dunia barat itu dipertahankan, sehingga peta-peta di atas kertas yang memotong hubungan kekerabatan dan batas-batas suku/ klen secara sembarangan itu juga terus terbawa ke dalam negara-negara yang didekolonisasi. Kita kenal orang Melanesia sekarang terkotak-kotak di dalam tujuh negara yang didekolonisasi, berdasarkan peta politik kaum penjajah. Kita juga tahu orang Kurdishtan yang jumlahnya tidak sedikit, tetapi mereka terbagi-bagi ke dalam lima negara atas pengkotakan penjajah Inggris, sehingga sampai hari ini mereka dipandang kaum minoritas di lima negara, termasuk Irak, Turki dan Iran.

Berdasarkan kecenderungan ini, ditambah lagi dengan keluhan-keluhan pelecehan dan peremehan hak karena mereka dianggap minoritas, tak berguna ataupun tak berkuasa, khususnya karena prinsip demokrasi adalah rule by the majority dan minority rights, maka dirasa perlu ada wadah yang memperhatikan mereka. Sering terjadi segala keluhan Masyarakat Adat diarahkan agar disampaikan di Kelompok Kerja Kaum Minoritas (Working Group on Minorities) di bawah Komisi HAM, yang merupakan bagian dari Economic and Social Council|ECOSOCPBB, yang ada di bawah Security Council. Diskriminasi antara kaum minoritas dan pihak mayoritas ini diwarnai dengan demokrasi yang selalu dikaitkan dengan "rule by the majority and minority rights", yaitu menyangkut "pluralism" dan/ atau "multiculturalism", yang dikaitkan juga dengan kebijakan politik devolusi dan otonomisasi seantero bumi.
A.  Minoritas Islam di Benua Australia
1. Penemuan Benua Australia dan Awal Kemunculan Islam
Pembentukan Negara Australia tidak terlepas dari para penjelajah bangsa-bangsa Eropa yang ingin memperluas wilayah kekuasaan dan pencarian keuntungan secara ekonomi serta penjajahan. Penemuan Australia berawal dari orang Portugis yang dipelopori Pedro Fernandesz de Quiros yang mengabdi pada kerajaan Spanyol berlayar mencari daratan luas di selatan (tera Ausrtalis Incognito), dalam pelayarannya terjadi pemberontakan, kemudian wakilnya Luis de Tores berlayar diantara selat antara Pulau Papua dan Semenanjung York ia tidak menemukan Asutralia tapi atas pengabdiannya selat antara Papua dan Australia dinamakan selat Tores. Orang Belandalah yang dianggap penemu pertama bangsa Eropa terhadap benua Australia yaitu Willian Janzs yang tiba di semenanjung Yoek kemudian Dirk Hartog tanggal 25 Oktober 1616 di tiba di selatan Australia dan menamakan benua ini dengan Het Land van de Eendracht.[1]
Frederic de Haoutman tahun 1619  tiba di Australia Selatan tepatnya di Perth,kemudian Abel Tasman mendarat di Van Diemens land (Tasmania) 21 November 1642.  Bangsa Inggris kemudian menguasai seluruh Ausrtalia bahkan Statenland atau New Zaeland setelah James Cook tiba di New South Wales  23 Agustus 1776 dan mengklaim wilayah Australia sebagai milik Inggris. Secara resmi Australia berdiri 26 Januari 1788 setelah 11 rombongan kapal Inngris tiba di Sydney dan menancapkan bendera Inggris,nama Sydney diambil dari Lord Sydney seorang Menteri Dalam Negeri sebagai penanggungjawab pelayanann ini, 26 Januari menjadi hari nasional di Australia. Gerakan mempersatukan seluruh Asutralia menjadi Negara berhasil diwujudkan tgl.1 Januari 1901 dengan nama Negara The Commonwealth of Australia.[2]
Sebenarnya jauh sebelum bangsa Eropa tiba di Australia para pelaut Nusantara khususnya  Makasar dan Bugis telah berhubungan dengan penduduk pribumi Austrlia yaitu Aborigin ,sepanjang pantai utara terdapat artefak-artefak dan istilah dan nama tempat yang berbau dari Makassar.
Nama Australia di ambil dari ilmuwan geografi bernama Ptolemy yang tinggal di Iskandariyah, Mesir pada abad ke 2.Ia menyatakan bahwa disebelah selatan khatulistiwa teradapat suatu daratan yang luas untuk mengimbangi daratan-daratan yang berada di sebelah utara, oleh karena itu Ptolemy menyebutnya Terra Australis Incognita yang berarti benua atau daratan selatan yang belum belum dikenal.[3] Penamaan Australia dipertegas oleh penjelajah Samudera yang bernama Pedro Fernandez de Quiros tahun 1610,Ia seorang perwira yang bekerja pada kerajaan Spanyol menyatakan mulai detik itu bahwa wilayah yang telah di dekatinya bernama Austrilia Del Espiritu Santo, de Quiros sengaja memakai nama Austrilia dengan huruf i ditengahnya sebagai penghormatan pada raja Spanyol bernama Philip III,sebagai penguasa dari dinasti Habsburg dan pangeran dari keluarga raja Austria,dengan kata lain ia telah menemukan daratan selatan atau terra australis yang dicari-cari bangsa Eropa.[4]
2.Awal Masuknya Islam.
Perkembangan sangat menarik di Australia bila mengkaji Sejarah Islam,pertanyaanya kapan Islam masuk dan siapa yang menyebarkan? dan bagaimana perkembangan Islam di bumi Ausrtalia ini? Sejarah masuknya Islam ke Australia dimulai dari interaksi pertama kali nelayan yang berasal dari Sulawesi Selatan (Indonesia) dengan penduduk asli di bagian Utara Australia (Aborigin) pada sekitar tahun 1600.Nelayan dan pedagang Makassar tiba dipeisisr utara Australia Barat ,Autralia Utara dan Queensland, orang Makassar berdagang dengan penduduk Asli yaitu Aborigi,dan mencari teripang.Bukti-buki dari kunjungan awal ini dapat ditemukan pada kesamaan beberapa kata  bahasa Makassar dengan orang Aborigin ,perkawinan antara Penduduk asli dan orang Makassar pernah terjadi dan lokasi pemakaman orang-orang Makassar ditemukan disekitar pesisir pantai. Tidak banyak jumlah Muslim yang tinggal di Australia saat itu, sampai pada sekitar tahun 1860 serombongan penggembala onta berasal dari Afganistan datang ke Australia menambah jumlah Muslim yang tinggal di Australia. Menurut Prof. Regina Ganter pakar keislaman di Australia dan dosen Sejarah Universitas Griffith, Kehadiran Islam di Australia terbukti jauh lebih awal dari tahun 1850-an, seperti yang selama ini menjadi “sejarah resmi” kedatangan agama Islam, dan eksistensinya tidak dapat dilepaskan dari orang Indonesia asal Makassar, Sulawesi Selatan. Menurut Dr. Mohamad Abdala Direkur Unit Kajian Islam Di Universitas Griffith (GIRU) Brisbane,Queensland Australia, tentang hubungan antara orang-orang Makassar dan masyarakat Aborigin telah terjadi sejak tahun 1600-an, “Jadi kehadiran Islam di Australiajauhlebihawal.
Di Australia, terdapat lebih dari 300 ribu orang penganut Islam dari sekitar 21 juta jiwa penduduk. Mereka umumnya adalah para migran dari kawasan Timur Tengah, Asia dan Afrika. Pada abad ke 19 Australia mempunyai banyak wilayah tanah yang kaya akan sumber daya alam yang belum tereksploitasi. Dengan mencoba mempergunakan unta sebagai hewan pengangkut, Australia membutuhkan orang-orang yang ahli dalam mengendarai dan mengoperasikan onta, maka didatangkanlah untuk pertama kali orang-orang Afghanistan untuk mengoperasikan 24 onta tersebut, dan tidak lama setelah itu berdatangan lebih banyak Muslim Afghanisthan ke Australia. Sekitar 10.000 sampai 12.000 onta didatangkan ke Australia dalam kurun waktu antara tahun1860 sampai 1907. Sekitar 3000 orang Muslim berasal dari Afghanistan bekerja sebagai pengangkut barangbarang, air, serta makanan dengan mempergunakan onta di daerah-daerah yang sulit.
Pada sekitar tahun 1960 dan sekitar tahun 1970 dalam jumlah yang cukup besar terjadi migrasi Muslim dari Lebanon dan Turki ke Australia, dimana jumlah Muslim terbesar di Australia saat ini berasal dari ke dua Negara tersebut. Jumlah Muslim terbesar yang tinggal di Australia saat ini berasal dari bangsa Arab, dibandingkan dengan bangsa Arab lainnya Muslim yang berasal dari Lebanon mempunyai jumlah terbesar dan sejarah migrasi yang lebih panjang/lama. Migrasi pertama bangsa Libanon ke Australia terjadi pada sekitar akhir tahun 1880-an. Gelombang kedua migrasi terjadi antara tahun 1947 sampai dengan 1975, terutama setelah terjadi perang antara bangsa Arab dan Israel pada tahun 1967. Gelombang ke tiga terjadi pada tahun 1976 setelah terjadi perang sipil di Lebanon.Bangsa Arab lain yang mempunyai populasi terbanyak di Australia adalah dari Mesir. Seperti halnya bangsa Lebanon, migrasi bangsa Mesir ke Australia terbesar terjadi setelah perang dunia II, migrasi ini terjadi dalam dua gelombang yaitu antara tahun 1947 sampai dengan 1971, dan gelombang ke dua terjadi pada sekitar akhir 1980.
3. Pertumbuhan dan Perkembangan Islam Di Australia.
Australia merupakan benua yang berdiri dalam satu Negara, artinya satu Negara yang menempati satu benua tidak seperti di benua Asia,Eropa,Afrika maupun benua Amerika yang dihuni oleh  berbagai  bangsa dan Negara. Australia didominasi penduduk kulit putih keturunan Inggris.Penduduknya terbagi dari berbagai etnis yaitu Aborigin sebagai penduduk pribumi,Kulit putih keturunan Eropa,penduduk keturunan Asia baik dari Asia Timur,Asia Tenggara , Asia Barat maupun dari Asia selatan.  Islam mempunyai sejarah yang lama dan beraneka ragam di Australia.  Semasa penempatan Eropah awal, setengah kelasi dan bantuan Muslim telah tiba di Australia tetapi tidak banyak yang diketahui tentang mereka kerana mereka tidak meninggalkan apa-apa kesan, kecuali beberapa rujukan di sana sini kepada nama mereka. Saat penempatan Eropa awal, beberapa pelaut dan tahanan muslim telah tiba di Australia tetapi tidak banyak yang diketahui tentang mereka karena mereka tidak meninggalkan apa-apa efek, kecuali beberapa referensi di sana sini ke nama mereka. Tidaklah sehingga abad ke-19 bahwa suatu kehadiran Islam yang tetap dikenali.
Pada dekad 1870-an , penyelam-penyelam Melayu Muslim telah diambil sebagai penyelam mutiara melalui perjanjian dengan Belanda untuk mengerjakan kawasan-kawasan perburuan mutiara di Australia Barat dan Wilayah Utara . Pada tahun 1875 , ada 1,800 orang penyelam Melayu yang bekerja di Australia Barat..Kebanyakan mereka kemudian pulang ke negara masing-masing.Unta di import ke Australia sejak dari dekad 1860-an untuk membantu penjelajahEropah membukakan kawasan pedalaman yang kering. Para juru latih unta juga berimigrasi ke sini untuk mengendalikan unta-unta yang diperkenalkan untuk memenuhi permintaan logistik di gurun- gurun Australia yang amat luas. Kebanyakan juru latih ini adalah Muslim dan walaupun mereka datang dari berbagai-bagai negara, mereka biasanya dirujuk di Australia sebagai ” Afghan “, perkataan bahasa Inggeris untuk “orang Afghanistan “. Oleh sebab pengetahuan dan kemahiran kaum juru latih itu tentang unta, mereka telah diberikan penghargaan untuk menyelamatkan banyak penjelajah Eropah yang awal, dan adalah amat penting untuk penjelajahan. Karena pengetahuan dan keterampilan kaum pelatih itu pada unta mereka telah diberikan penghargaan untuk menyelamatkan banyak penjelajah Eropa yang awal, dan sangat penting untuk eksplorasi. Disebabkan sumbangan mereka, landasan kereta api utara-selatan dinamai sebagai The Ghan , singkatan untuk “The Afghan” .Karena kontribusi mereka, jalan kereta api utara-selatan dinamai sebagai The ghan , singkatan untuk “The Afghan”.[5]
Islam di Australia merupakan kelompok agama terbesar keempat, setelah Kristen, “Tanpa Agama“, dan Buddhisme. Menurut sensus 2006, sekitar 340.392 orang atau 1.71% dari penduduk Australia adalah Muslim. Menjadi komunitas yang ditetapkan berdasarkan identitas keagamaan, masyarakat Muslim Australia merupakan masyarakat yang paling beragam secara etnis atau secara ras, dengan anggota dari berbagai latar belakang etnis dan ras. Dengan demikian, bagian-bagian berbeda di dalam komunitas Muslim Australia juga dapat mendukung identitas tambahan, terbebas dari identitas Muslim mereka, sering berhubungan dengan teman non-Muslim, di Australia maupun luar negeri.
Meskipun kemunculannya sebagai agama di Australia sering dianggap sebagai “baru” bagi warga non-Muslim Australia dan lebih dikenal karena gelombang migrasi dari Dunia Muslim yang beragam  termasuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Asia Tenggara, Balkan di Eropa, Anak benua India, dan Afrika Sub-Sahara faktanya, Islam memiliki sejarah yang panjang di Australia. Sejarah ini merentang tidak hanya ke beberapa Muslim yang tiba sebagai bagian dari kontak pertama Eropa dan masa kolonial, tapi juga ke masa sebelumnya dan kemunculan awal Kristen sebagai agama non-pribumi yang dominan jumlah penganutnya.
4. Peristiwa Bom London Tgl. 7 Juli 2005, Peristiwa 11 September dan  Bom Bali.
Setelah terjadi peristiwa meledaknya bom di London 7 Juli 2005, pemerintahan Negara Barat segera melakukan kampanye terus menerus untuk memberlakukan undang-undang khusus bagi umat Islam yang tinggal di Negara Barat.Mereka mencoba membentuk opini menyesatkan kepada masyarakat bahwa undang-undang baru tersebut dimaksudkan untuk melindungi dan memerangi bahaya serangan terorisme di Negara mereka. Tetapi tidak bisa dielakkan, agenda tersembunyi dari kampanye tersebut yaitu membidik serta melemahkan Islam dan Muslim di Negara Barat segera terlihatnyata.Strategi dan agenda tersembunyi yang ditunjukkan oleh Pemerintahan Negara Barat mempunyai banyak kesamaan. Propaganda yang dimulai dengan alasan yang dicari-cari untuk memerangi terorisme, segera diperluas untuk memerangi apa yang mereka sebut dengan pendapat/ide radikal dan ekstrim, strategi ini ditargetkan untuk memecah belah Muslim dengan memberi predikat muslim moderat dan muslim radikal/ekstrim.
Di Australia target juga diarahkan ke sekolah-sekolah muslim, dimana pemerintah akan meninjau kembali kurikulum yang diajarkan di sekolah-sekolah tersebut. Rencana ini segera mendapat reaksi keras dari sekolah-sekolah muslim, karena kurikulum yang diajarkan saat ini tidak beda jauh dengan apa yang diajarkan di sekolah-sekolah lainnya, bahkan banyak murid dari sekolah-sekolah muslim tersebut yang mempunyai prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah lainnya. Pemerintah juga mengusulkan agar di sekolah-sekolah muslim lebih banyak diajarkan nilai-nilai kemasyarakatan Australia, seperti toleransi, tanggung jawab dan sebagainya, dimana nilai-nilai tersebut juga ada dalam Islam dan sudah diajarkan di sekolah-sekolah muslim tersebut, lebih dari itu sekolah-sekolah muslim dalam kurikulum belajar tidak pernah mengajarkan tindakan terorisme. Sedangkan di masjid-masjid, pemerintah mengusulkan agar para Imam masjid diberi pengarahan apa yang seharusnya boleh mereka ceramahkan. Tidak hanya sampai disitu, anggota parlemen dari partai Liberal Bronwyn Bishop mengusulkan agar melarang pemakaian jilbab di sekolah-sekolah umum, karena jilbab dianggap bertentangan dengan nilai-nilai kemasyarakatan Australia tentang persamaan dan menyebabkan perpecahan di sekolah-sekolah. Usulan ini juga mendapat tantangan keras baik dari muslim maupun non muslim, sebagian besar yang menentang usulan itu mengatakan bahwa tidak ada bukti pemakaian jilbab di sekolah-sekolah menyebabkan perpecahan dan persamaan hak. Kerry Cullen salah satu kepala sekolah menengah umum tingkat atas (SMTA) di Sydney mengatakan bahwa di sekolahnya hanya ada satu orang yang menggunakan jilbab merah kecoklatan dimana warna tersebut sesuai dengan seragam sekolahnya, dan itu bukan suatu masalah di lingkungan sekolahnya.Tidak pernah ada laporan negatif dari guru-guru atau murid-murid yang disebabkan oleh pemakaian jilbab.Kepala sekolah lainnya mengatakan bahwa kita tidak pernah melihat adanya perpecahan yang disebabkan oleh pemakaian jilbab, kami melihatnya sebagai sebuah keragaman budaya.
Secara umum hubungan Muslim dan Non Muslim di Australia cukup baik, terutama sebelum terjadi peristiwa 11 September. Tetapi setelah peristiwa 11 September, bom bali, kemudian disusul bom London banyak Muslim yang mendapat perlakuan kurang menyenangkan baik oleh masyarakat umum maupun oleh pemerintah dan media massa. Namun demikian hubungan personal antara Muslim dan Non Muslim masih cukup baik, meskipun terkadang sebutan teroris baik dalam nada bercanda maupun serius sering dilontarkan Non Muslim kepada Muslim, sebutan atau label teroris ini terkadang kurang menyenangkanbagiMuslim.Secara umum harapan Muslim yang tinggal di Australia adalah bisa lebih mudah menjalankan aktifitas ibadahnya terutama ibadah sholat Jumat, sedangkan harapan yang ditujukan kepada pemerintah Australia dan media massa adalah tidak terus menerus menyudutkan Muslim dengan memberi label-label yang tidak menyenangkan seperti ekstrimis, radikal, teroris dan sebagainya.
5.  Masa Kejayaan dan Masa Kemunduran
Meskipun orang-orang Islam telah masuk ke Australia sejak tahun 1600 yang dimulai oleh orang-orang Makassar,kemudian kedatangan rombongan orang-orang Afganistan sekitar tahun 1860 belum memberikan masa kekegemilangan atau kemajuan Islam di Auatralia.Orang-orang Makasar hanya para nelayan yang mencari kehidupan dipesisir pantai Barat Australia dengan mencari teripang dan ikan saja setelah memperoleh hasil  kembali ke kampungya ,mereka tiadak membuka pemukiman di Australia , sedangkan orang-orang Afganistan hanya sebagai pengurus hewan unta saja belum mensyiarkan Islam secara maksimal tetapi para pendatang dari Afganistan ini dianggap sebagai pendatang pertama di Australia karena mereka tinggal dan bermukim sehingga disebut The first Muslim settlemen. Pendirian mesjid-mesjid di Australia baru terjadi pada  abad 20 , seperti di  Brisbone tahun 1907 didirikan oleh arsitek Sharif Abosi dan Ismeth Abidin. Jadi rentang waktunya sangat jauh dari abad ke 16 sampai abad ke 20 baru dibanguin mesjid.Dilihat secara geografis memang Australia tidak strategis sehingga bukan merupakan jalur perdagangan dan jalur pelayaran dunia samapai abad ke 20,bahkan para penjelajah dari Eropa seperi Dick Hartog,Frederic de Houtman dan Abel Tasman dari Belanda tidak menetap dan mengekslorasi alam Australia pada abad ke 17 karena dianggap gersang dan tidak menjanjikan kekayaan.Bahkan pemerintah Inggris yang mengklaim Australia menjadi miliknya menjadikan wilayah Australia sebagi tempat pembuangan para narapidana dan penjahat di Inggris.
Bagi umat Muslim di Australia sampai saat ini masih merupakan proses masa perkembangan belum mencapai masa kejayaan apalagi masa kemunduran.Beradasrkan sesnsus tahun 2006 Islam di Australia merupakan kelompok agama terbesar keempat, setelah Kristen, “Tanpa Agama“, dan Buddhisme. Menurut sensus 2006, sekitar 340.392 orang atau 1.71% dari penduduk Australia adalah Muslim. Menjadi komunitas yang ditetapkan berdasarkan identitas keagamaan, masyarakat Muslim Australia merupakan masyarakat yang paling beragam secara etnis atau secara ras, dengan anggota dari berbagai latar belakang etnis dan ras. Dengan demikian, bagian-bagian berbeda di dalam komunitas Muslim Australia juga dapat mendukung identitas tambahan, terbebas dari identitas Muslim mereka, sering berhubungan dengan teman non-Muslim, di Australia maupun luar negeri.Meskipun kemunculannya sebagai agama di Australia sering dianggap sebagai “baru” bagi warga non-Muslim Australia dan lebih dikenal karena gelombang migrasi dari Dunia Muslim yang beragam termasuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Asia Tenggara, Balkan di Eropa, Anak benua India, dan Afrika Sub-Sahara faktanya, Islam memiliki sejarah yang panjang di Australia. Sejarah ini merentang tidak hanya ke beberapa Muslim yang tiba sebagai bagian dari kontak pertama Eropa dan masa kolonial, tapi juga ke masa sebelumnya dan kemunculan awal Kristen sebagai agama non-pribumi yang dominan jumlah penganutnya.
Faktor-faktor Islam di Australia belum mencapai kejayaannya dan masih dianggap masih pada tahap berkembang adalah :
a.    Penduduk yang menganut  Islam baru 1.71 persen dari jumlah warga Negara Australia
b.    Latarbelakang etnis yang berasal dari berbagai Negara memerlukan waktu untuk mempersatukannya
c.    Belum adanya tokoh-tokoh Islam yang muncul di Australia baik tokoh politik, tokoh ekonomi .tokoh ilmuwan maupun ketokohan nasional dalam keagamaan.
d.    Belum banyaknya lembaga pendidikan Islam yang representatif dan berkualitas.
e.    Masih adanya stigma Islam sebagai biangya kekerasan dari masyarkat dan pemerintahan Australia apalagi setelah munculnya peristiwa Bom London,Persitiwa 11 September di kota New York Amerika Serikat dan Bom
f.     Dalam penguasaan Ilmu pengetahuan dan Teknologi dari kaum Muslimin di Australia belummerata dan mumpuni,masih tertinggal oleh kaum kulit putih keturunan Eropa

B .Minoritas Islam di Benua Asia Tenggara
Islam di Asia Tenggara memiliki sejarah panjang dan tersendiri. Beberapa negara utama di kawasan ini, seperti Malaysia, Indonesia, dan Brunai Darussalam adalah negara-negara dengan mayoritas muslim. Bahakan jumlah penduduk muslim yang ada di Asia Tenggara melebihi jumlah penduduk yang ada di kawasan Timur Tengah. Namun demikian Asia Tenggara masih menyisakan beberapa kelompok Islam sebagai minoritas.
Minoritas muslim di Asia Tenggara juga tampak beragam meskipun terdapat setidaknya dua hal yang bisa membantu menjelaskan masyarakat Islam Minoritas itu. Pertama, mereka yang terbentuk akibat migrasi ke negeri dan kawasan yang telah memiliki pemerintahan dan sistem nasional yan kokoh. Termasuk dalam kelompok minoritas ini adalah para pedagang muslim, yang kebanyakan berasal dari anak benua India, Myanmar, Arab, Yunnan, Vietnam, Kampuchea, laos, dan Thailand utara. Kedua, masyarakat muslim penghuni asal yang mendapati diri mereka menjadi minoritas karena perubahan dan perkembanagn geografis dan politik. Kasus paling nyata dalam hal ini terjadi pada masyarakat Singapura pada abad ke-19 dan kaum muslim Pattani di Thailand pada perempat terakhir abad ke-18.[6]
Sering terjadi perbenturan antar Islam dan kelompok lain di daerah non-Islam. Konflik seperti inilah yang mengindikan banyaknya permaslahan yang komplek yang dihadapi minoritas Islam di Asia Tenggara.Ditambah lagi dengan kesenjangan di berbagai bidang seperti pendidikan dan ekonomi membuat semangat kemerdekaan diri tidak mudah hilang.
Namun, dari semuanya itu perkembangan minoritas Islam di kawasan Asia Tenggara memberikan harapan dan tantangan baru bagi munculnya corak dan ragam Islam yang lebih mudah menerima konsekuensi pluralisme agama dan budaya, serta mampu menunjukkan daya saingnya di tengah-tengah kecenderungan kompetisi global di hampir segala bidang.
Beberapa permasalahan Islam minoritas diantaranya dapat ditemui di daerah Pattani (Thailand), Moro (Philipina) dan Cham (Vietnam, Kamboja dan Thailand).
1. Muslim Pattani
a. Sejarah Awal Islam di Pattani
Islam diperkirakan masuk ke kawasan Pattani, Thailand selatan pada abad X atau XI lewat jalur perdagangan. Penyebaran Islam dilakukan para guru sufi pengembara dan pedagang yang berasal dari wilayah Arab dan pesisir India. Bukti yang menguatkan pendapat ini adalah ditemukannya sebuah batu nisan yang bertuliskan arab di dekat kampung Kampung Teluk Cik Munah, Pekan pahang yang bertarikh 1028 M. orang-orang Siam (Thai) mengenal orang-orang ini dengan sebutan Khei atau Khaek yang secara bahasa berarti pendatang atau orang yang datang menumpang.[7]
Pada masa jayanya di daerah ini terdapat kerajaan Islam Melayu yang yang maju dan menjadi salah satu pusat perdagangan Asia Tenggara. Kerajaan ini dikenal dengan Negeri Pattani besar mencakup berbagai wilayah seperti kawasan pesisir timur Semenanjung Malaka, Teluk Siam, dan kawasan laut China Selatan seperti narathiwat (Teluban), Yala (Jalor) dan sebagian Senggora (Songkla, sebayor dan Tibor).
b. Pergulatan Politik Minoritas Muslim Pattani
Penguasaan Pattani oleh Thailand terjadi pada tahun 1785, secara berturut-turut pemerintah Thai memberlakukan beberapa kebijakan politik. Diantaranya adalah kebijakan politik devide et impera (1816-1902), kebijakan integrasi dan pembangunan nasional (1902-1940), kebijakan asimilasi kebudayaan dan transmigrasi (1940-1980), dan kebijakan Tai Rum Jen serta Kuam Wang Mai atau lebih dikenal dengan Aspirasi baru yang diberlakukan sejak tahun 1980 hingga sekarang.
Sedangkan proses lenyapnya kekuasaan kerajaan Pattani dan masuknya ke dalam kekuasaan Thailand (Siam) disebut dengan Thesaphiban. Proses ini terjadi pada tahun 1902 M dan diikuti dengan proses pembauran (Siamisasi). Raja kehilangan kewibawaan dalam bidang politik dan ekonomi.Sementara itu, peranan ulama, semakin kecil karena adanya pembatasan pelaksanaan syariat. Peristiwa ini merugikan kaum muslim dan sebagai akibatnya terjadi pemberontakan lokal terhadap Bangkok yang dipimpin para ulama pada tahun 1910 dan 1911.
c. Kehidupan Masyarakat
Pemerintah Thailand seringkali menyebut orang Muslim pattani sebagai Islam Thai sebuah istilah yang sebenarnya kurang tepat karena mereka lebih dekat dengan etnis dan budaya melayu daripada Thailand. Mereka adalah kelompok etnik yang terpisah dari induknya dunia melayu muslim Asia Tenggara.[8]
Sampai akhir abad XIX, kehidupan ekonomi Pattani bergantung kegiatan ekonomi subsisten, seperti pertanian padi, penagkapan ikan, pertambangan, dan perdagangan eceran.
Struktur sosial di Pattani menunjukkan kedudukan sosial, ekonomi, dan politik muslim Pattani berada pada tingkat bawah. Sejak perang Pasifik, bidang politik hampir seluruhnya berada dalam dominasi kelompok etnis Thai.Sementara dalam bidang ekonomi dalam skala besar merupakan lahan bagi etnis Cina.Jenis pekerjaan yang masih mungkin adalah ekonomi tradisional yang bersifat subsisten.Tidaklah mengherankan apabila sebgian masyarakat terutama generasi muda yang lebi tertari untuk migrasi ke kota-kota besar seperti Bangkok bahkan sampai Malaysia dan Singapura.
d. Perkembangan Keagamaan
Perkembangan Islam di pattani dapat dikatakan sebanding dengan perkembangan Islam di Nusantara.Pada zaman kerajaan dan kesultanan di Pattani, Islam menjadi simbol dan paradigma dalam sistem pemerinahannya. Adapun di daerah lain seperti bangkok dan daerah utara pengaruh Islam lebih terbatas pada pribadi.
Sekarang ini, kebebasan memeluk agama dan mengamalkannya dijamin pemerintah.Hal ini dibuktikan dengan terbitnya Undang-undang Kelembagaan Negara Thailand tahun 1997 akta nomor 38.hal ini tentu saja memberikan kesempatan bagi muslim untuk menjalankan syariatnya. Mereka bisa melakukan pernikahan dan melaksanakan hukum waris sesuai kaidah hukum Islam yang berlaku.
2. Muslim Moro
a. Sejarah Awal Islam Moro
Muslim Moro berada di negara Filipina. Negara Filipina adalah negera kepulauan yang terdiri dari 7.109 pulau tropis dengan luas total wilayah 29.629.000 hektare dan terdiri atas beragam etnis, bahasa dan agama. Meskipun demikian negara ini mayoritas penduduknya beragama katolik. Menurut sensusu tahun 1990 junlah kelompok muslim adalah 5 % dari keseluruhan penduduk Filipina yakni sekitar 2,8 juta jiwa dari populasi 65 juta penduduk. Sementara sumber lain menyebutkan jumlahnya 7 juta orang atau 10 % penduduk. Mereka Merupakan komunitas agama kedua terbesar di Filipina.[9]
Jumlah ini cukup menjadikan mereka minoritas baik dari segi budaya maupun politik.Mereka bertempat tinggal di kawasan Filipina Selatan, khususnya di Pulau Mindanao dan Kepulauan Sulu. Umat Islam di sana sering disebut sebagai bangsa Moro. Menurut catatan sejarahnya, istilah Moro merujuk kepada Moor, Moriscor atau Muslim. Kata Moor berasal dari kata latinMauri sebuah istilah yang sering kali digunakan orang-orang Romawi Kuno untuk menyebutkan penduduk wilayah Aljazair barat dan maroko. Ketika bangasa Spanyol tiba di wilayah di wilayah Filipina dan menemukan sebuah bangsa yang memiliki agama dan adat istiadat seperti orang-orang Moor di Spanyol, maka mereka mulai menyebut orang-orang tersebut dengan istilah Moro.
Islam masuk ke Filipina selatan tidak lama setelah Islam berkembang di dunia Melayu.Islam sudah berkembang di beberapa kepulauan, khususnya Sulu di perempat terakhir bad ke-13.ini beratri kedatangan Islam ke sana jauh lebih awal dibandingkan kedatangan bangsa kolonial, khususnya Spanyol.
Sumber dari kedatangan Islam bisa ditelusuri lewat Tarsila. Walaupun banyak mengandung mitos tapi tarsila cukup kronologis untuk menjelaskan asal mula dan perkembanagn awal Islam Moro.islam berkembang melalui jalan perdagangan dan disebarkan melalui para dai yang di kawasan Filipina Selatan dikenal dengan sebutan Masya'lik, Makdumin dan Auliya. Pada abad ke-14 terjadi proses Islamisasi dalam bidang pendidikan dan abad ke-15 terjadi pengaruh politik dari para pedagang Melayu.
Kedatangan bangsa Spanyol pada tahun 1565 ke Filipina untuk mendirikan koloni dengan segala nuansa kristennya sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial dan budaya Filipina secara langsung maupun tidak langsung. Proses islamisasi terhambat penyebaran Islam hanya sampai di Sulu dan Mindanao.
b.Politik dan kebangkitan Islam Philipina
Wilayah Mindanao dan Sulu di Selatan Filipina tidak pernah bisa ditundukkan oleh pasukan Spanyol.Namun demikian, Spanyol tetap menganggapnya sebagai bagian dari koloninya. Hal ini terbukti dengan ditanda tanganinya Traktat Paris pada tahun 1898 yang mengalihkan hak penguasaan wilayah Filipina termasuk daerah Selatan kepada Amerika Serikat dengan harga 20 juta dolar AS. Sejak itu Amerika mengambil alih kekuasaan di Filipina.Kemerdekaan Filipina baru terjadi tahun 1946.namun kemerdekaaan itu tidak berpengaruh banyak bagi status politik dan kesejahteraan bangsa Moro.setelah merdeka otomatis pemerintahan dikendalikan oleh orang-orang katolik di Filipina Utara.
Perbenturan yang terjadi antara kelompok Islam dan kekuatan Barat dan juga pemerintahan Filipina seringkali menumbuhkan kesadaran di kalangan muslim Filipina akan pentingnya merepresentasikan nilai-nilai dan simbol umat Islam, seperti yang pernah mereka miliki lewat kesultanan Islam di Filipina Selatan.

Penindasan terhadap kaum muslim Moro terjadi pada amasa kekuasaan Ferdinand Marcos di tahun 1965. hal ini menyebabkan munculnya gerakan perjuangan bangsa Moro seperi Muslim Independen Movement (MIM) yang didirikan oleh Udtog Matalam, pada tahun 1968 dan Moro Liberation Front (MLF) pada tahun 1971. karena perbedaan vsi maka MLF pecah menjadi dua, yakni kelompok nasionali sekuler pimpinan Nur Misuari yang mendirikan Moro National Liberation Front (MILF) dan kelompok Moro Islamic Liberation front (MILF) yang dipimpin oleh Hashim Salamat. Dalam perjalanannya MNLF pun pecah lagi menjadi kelompok MNLF Reformasi di bawah pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf di bawah pimpinan Abdurrahman Janjalani (1993).secara umum kebangkitan Islam di Filipina berkembang dalam dua paradigma: pertama, pradigma radikal yang dikembangkan oleh para aktivis MNLF, yang semula merupakan kelompok minoritas di kalangan umat Islam. MNLF pernah mengeluarkan manifesto yang menyerukan kemerdekaan bangsa Moro.
Kedua, pandangan moderat yang menginginkan adanya berbagai perubahan sosial dalam konteks lebih luas.Sikap politik bangsa Filipina dalam menghadapi tuntutan bangsa Moro sangat jelas. Mereka tidak mungkin akan membiarkan orang-orang Islam memisahkan dan memerdekakan diri. Meskipun akhirnya dalam perkembanagn terakhir politik nasional Filipina orang-orang Moro diberikan otonomi, hal ini tidak menghilangkan potensi konflik yang bisa muncul kembali.
Pada tanggal 16 Agustus 1996, wakil-wakil dari MNLF dan pemerintah Filipina sepakat bertemu dan merundingkan rencana perdamaian di Istana Merdeka, jakarta. Selanjutnya tanggal 2 September 1996, naskah perjanjian perdamaian ditandatangani oleh Nur misuari (Ketua MNLF) dan Fidel Ramos (Presiden Filipina) di Manila.
c. Perkembanagan ekonomi, sosial dan budaya
Masyarakat muslim terkonsentrasi di wilayah otonom Filipina Selatan. Mereka ada di kepulauan Mindanao, daerah ujung selatan Palawan, dan gugusan kepulauan Sulu.Secara etnis dan bahasa mereka setidaknya terdiri dari tiga belas kelompok bahasa.Mereka berkedudukan di 13 propinsi yang berada di empat wilayah perundang-undangan yang berbeda.
Dari segi etnis, tiga suku diantaranya yakni, suku maranao, tausug dan Manguindanao merupakan kelompok etnis muslim terbesar di kawasan ini memiliki penduduk muslim sekitar 75 % dari jumlah total penduduk muslim di Filipina.
Dilihat dari jenis, setidaknya sampai 1970-an, masyarakat muslim Filipina tidak banyak yang berbeda dari warga lainnya. Mayoritas dari mereka menekuni bidang pertanian, perikanan, dan ekonomi yang berbasis pada hutan. Kaum muslim Manguindanau banyak ayang bertani sawah, sedangkan masyarakat maranau dikenal sebagai pengrajin kuningan dan tenunan, selain bertanam padi dan jagung di pegunungan. Sebagian mereka juga dikenal sebagai pedagang yang terkenal sampai ke pelosok-pelosok Filipina.
Orang Tausug yang tinggal di pesisir umumnya bekerja sebagai nelayan, hampir sama dengan sebagian masyarakat Iranun, kalagan, dan Samal pesisir.fenomena yang agak berbeda terdapat pada orang-orang tagalog Islam yang karena mengalami proses urbanisasi besar-besaran, telah beralih menjadi pekerja profesional baik di kantor maupun pabrik di daerah perkotaan.
d.Perkembangan keagamaan
Ketika konflik ketegangan antara kelompok Islam di Filipina secara keseluruhan.Mereda, terjadi perkembanagan yang menarikdalam Islam di Filipina. Mislanya, kantor Urusan Agama Islam (OCIA) dianggap sebagai simbol perhatian pemerintah Filipina terhadap maslah umat Islam. Pada tahun 1973, pemerintah mendirikan Institute of Asian and Islamic Studies di Mindanao State University. Kemudian, nama lembaga kajian ini diubah menjadi King Faisal Center for Islamic and Arabic Studies.
Respons yang positif dari pemerintah Filipina juga diberikan pada bidang-bidang lainnya.Pada 1973, pemerintah mendirikan Philipine Amanah bank, sebuah bank komersial yang bermarkas di manila untuk mengembangkan berbagai aspek perekonomian masyarakat Islam seperti pertanian, pabrik, pertambangan, transfortasi dan industri.
3. Muslim Cham
a. Sejarah awal Islam di Cham
Bangsa Muslim Cham atau Champa merupakan masyarakat Asia Tenggara yang beragama Islam selain bangsa yang berlatar belakang etnis Melayu. Mereka tersebar di Vietnam, Kampuchea, dan Thailand. Masyarakat Cham merupakan keturunan dari bangsa Cham terdahulu, baik muslim, di zaman Kerajaan Champa (192-1471). Dalam sejarah Indonesia pengaruh dari hubungan Champa dengan kerajaan majapahit dikenal dengan baik.Kerajaan ini hamcur tahun 1471 oleh pasukan Vietnam yang mengkibatkan mereka tercerai berai.Mayoritas mereka hidup di desa-desa padat.[10]
Di Vietnam generasi awal paling awal mereka menempati kawasan pantai Phan Rang (Pandarunga)dan Nha Trang, wilayah Thun Hai. Dalam Sejarahnya masyarakat Cham yang ada di Kampuchea merupakan kelanjutan dari kelanjutan dari pelarian bangsa Champa pada tahun 1471.mereka mendirikan pemukiman seperti yang yterdapat di daerah Kampong Chnang dan Kampong Cham, kawasan yang dialiri sungai Mekong sebelah utara kota Phnom Penh.
Meskipun minoritas, masyarakat Islam Cham mengembangakn struktur kemasyarakatan berdasarkan tradisi Islam. Dalam hierarki dan organisasi keagamaan misalnya mufti menduduki tempat tertinggi disusul kemudian oleh tuan kadi, fakih dan raya kadi.
b.Perkembangan sosial, Ekonomi dan budaya
Dewasa ini, mata pencaharian mereka bertumpu pada sektor pertanian, perikanan, peternakan dan perdagangan. Masyarakat muslim Cham di Vietnam banayak tinggal terisolasi di berbagai kawasan. Aspek sosial dan ekonomi tidak jauh berbeda dengan masyarakat Vietnam pada umumnya.Mereka hidup sebagai nelayan, banyak diantara mereka yang menjadipetani dalam bidang sayuran, dan pembudidayaan kapas.Usaha di bidang peterbnakan juga jasa transportasi air, dan perdagangan. Jumlah kaum muslim di kawasan ini sekitar 700.000 jiwa.
Di Thailand kebanyakan masyarakat Cham tinggal di kota-kota besar teruama Bangkok. Mereka telah berubah menjadi masyarakat urban dan melepaskan ekononomi pertanian kemudian berganti dengan profesi masyarakat kota seperti berdagang dan bertenun kain secara modern.
Kampuchea merupakan pusat masyarakat muslim Cham terbesar. Menurut data statistik tahun 1995, terdapat sedikitnya 200.000 orang di kawasan ini.Angka ini jauh dibawah jumlah mereka sebelum pembantai masal yang kerap terjadi pada masa Pol Pot (1975-1979).Mereka kebanayak juga bermata pencaharian sebagai petani.
c. Perkembangan keagamaan
Dalam praktek keagamaan, seperti halnya kaum muslim di Asia Tenggara lainnya, masyarakat muslim Cham menganut Islam mazhab Suni. Sehubungan dengan banyaknya bantuan dari Timur Tengah dan dunia Islam, pemerintahan kampuchea sempat merasa khawatir terdapat gerakan keagmaan yang puritan dan fundamental.
Berbagai acara keagaamn seperti Idul Fitri, Idul Adha, serta Maulid Nabi seringkali dilaksanakan secara meriah. Hal ini menunjukkan secara agama dan budaya masyarakat muslim Cham sangat dekat dengan negara-negara muslim mayoritas di tetangganya.
Dewasa ini terdapat kecenderungan semakin banyak masyarakat muslim Cham yang mempelajari Islam secara baku dan formal.peran merka dalam kegiatan sosial keagamaan cukup menonjol. Hal seperti ini bisa ditemui dengan banyaknya pendirian masjid-masjid di daerah pesisir di Kamboja dan Vietnam.

C. Minoritas Islam di Benua Amerika
Sejarah Islam di Amerika Serikat bermula sekitar abad ke 16, dimana Estevánico dari Azamor adalah Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Amerika Utara. Walau begitu, kebanyakan para peneliti di dalam mempelajari kedatangan Muslim di AS lebih memfokuskan pada kedatangan para imigran yang datang dari Timur Tengah pada akhir abad ke 19. Migrasi Muslim ke AS ini berlangsung dalam periode yang berbeda, yang sering disebut "gelombang", sekalipun para ahli tidak selalu sepakat dengan apa yang menyebabkan gelombang ini.
Populasi Muslim di AS telah meningkat dalam seratus tahun terakhir, dimana sebagain besar pertumbuhan ini didorong oleh adanya imigran. Pada 2005, banyak orang dari negara-negara Islam menjadi penduduk AS - hampir 96.000 - setiap tahun dibanding dua dekade sebelumnya.
Masjid adalah tempat ibadah utama bagi seorang Muslim. Di AS, ada sekitar 1.209 Masjid, dimana yang terbesar adalah Islamic Center of America yang terletak di Dearborn, Michigan. Dibangun pada 2005, Masjid ini dapat menampung lebih dari 3.000 jamaah yang terus tumbuh di wilayah itu. Hanya kurang dari 100 unit yang benar-benar dari awal dirancang sebagai Masjid, kebanyakan jamaah Islam di AS pada awalnya beribadah di bangunan-bangunan yang semula didirikan untuk tujuan lain, seperti bekas stasiun pemadam kebakaran, teater, gudang, dan toko.
Jumlah Masjid terbanyak di AS adalah di negara bagian California, yakni sekitar 227 unit pada tahun 2001.
Sulit menentukan jumlah pasti Muslim di AS. Konstitusi AS memisahkan antara gereja dengan negara yang tercermin dalam undang-undang Amerika, sehingga formulir Biro Sensus AS tidak memuat pertanyaan tentang agama pada orang yang dicatat di dalamnya. Dinas imigrasi juga tidak mengumpulkan informasi tentang agama para imigran. Banyak masjid di AS tidak memiliki kebijakan keanggotaan resmi, dan mereka jarang mencatat secara akurat jumlah jamaah yang datang. Hasil akhirnya adalah tidak adanya data yang akurat mengenai jumlah Muslim di AS.[14] Menurut sumber yang sama, imigran Asia Tengah-bagian Selatan menempati urutan teratas (33%) dalam jumlah besar komunitas Muslim AS, yang kedua adalah keturunan Afro Amerika (30%), Arab (25%), Afrika (3%), lain-lain 5%, serta Eropa dan Asia Tenggara (masing-masing 2%). Sedangkan menurut Central Intelligence Agency (CIA) Amerika dalam situsnya, jumlah Muslim di AS adalah 1% dari 301.139.947 (perkiraan Juli 2007) penduduk AS, jumlah ini sama dengan jumlah umat Yahudi di AS.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/0/03/Pengunjung.JPG/300px-Pengunjung.JPG
(Persentase pengunjung Masjid di AS menurut CAIR)

Menurut Lembaga Survey Pew pada tahun 2007, dua pertiga Muslim di AS adalah keturunan asing. Di antara mereka telah bermigrasi ke AS sejak tahun 1990. Sedangkan sepertiga dari Muslim AS adalah penduduk asli yang beralih ke Islam, dan keturunan Afro Amerika. Pada tahun 2005, menurut New York Times, lebih banyak lagi orang dari negara-negara Muslim yang menjadi penduduk AS - hampir 96.000 - setiap tahun dibanding dua dekade sebelumnya.
Sedangkan menurut Council on American-Islamic Relations (CAIR), jemaah masjid Sunni yang diperuntukkan bagi umum di AS berasal dari latar belakang bangsa yang berbeda: Asia Selatan (33%), Afro Amerika (30%), Arab (25%), Eropa (2,1%), Amerika kulit putih (1,6%), Asia Tenggara (1,3%), Karibia (1,2%), Turki Amerika (1,1%), Iran Amerika (0,7%), dan Hispanik/Latin (0,6%).
Penjara bisa jadi adalah penyokong terhadap pertumbuhan Islam di AS. Perkiraan resmi menyatakan bahwa persentase dari narapidana Muslim adalah sekitar 15-29% dapi populasi penjara. Diperkirakan, sekitar 80% dari narapidana berpindah agama ke Islam. Populasi narapidana Muslim telah mencapai 350 ribu jiwa (pada 2003) dengan pertambahan sekitar 30 ribu hingga 40 ribu setiap tahunnya. Kebanyakan narapidana yang berpindah ke Islam adalah keturunan Afrika.
Menurut Dr. Mikhail Waller, golongan Islamis radikal, yang dicurigai oleh pemerintah AS, menjadi perekrut di dalam penjara untuk menjadikan pengikutnya sebagai kader demi mendukung mereka dalam usaha-usaha anti Amerika.
Pada awalnya, imigran Muslim yang datang ke AS bekerja sebagai budak, tapi kini tidak sedikit yang bekerja sebagai seorang profesional. Pekerjaan lain yang dilakoni oleh Muslim di AS adalah guru, tentara, penjaga toko, sopir taksi, dokter, wiraswasta, buruh, dan pekerjaan lainnya.
Karena dalam Islam perbuatan riba diharamkan oleh agama, sebagian Muslim merasa kesulitan ketika harus mendanai dan mengembangkan usahanya. Sebagian besar lembaga keuangan dan perbankan di AS masih bersifat konvensional, dimana mereka menerapkan sistem berbunga. Namun sejak beberapa tahun lalu, sebagian lembaga keuangan dan korporasi mulai mencari cara untuk membantu Muslim AS. Beberapa program pendanaan lokal ala Islam baru-baru ini telah dimulai atau sedang dalam tahap perencanaan.
Korporasi Pengembangan Komunitas Phillips (Phillips Community Development Corp.) maupun Badan Pengembangan Komunitas Minneapolis (Minneapolis Community Development Corp.), masing-masing telah memberi dana bagi pemiliki usaha Islam dengan biaya administrasi sebagai pengganti bunga.
Konsorsium Minneapolis dari Para Pengembang Komunitas (Minneapolis Consortium of Community Developers) telah menyediakan dua pendanaan berdasarkan biaya untuk usaha-usaha Islami sebagai proses awal.
Delsan Auto Dealer, tempat usaha mobil bekas miliki seorang Somalia, menyediakan pendanaan bebas bunga kepada pelanggannya.
Kelompok Twin Cities sedang berupaya untuk membentuk perserikatan kredit secara Islam.Bank-bank seperti Wells Fargo & Co. dan University Bank tengah mencari jalan bagaimana mereka bisa membantu usaha Islam.
Ada banyak organisasi Islam di AS.Kelompok yang paling besar adalah American Society of Muslims (ASM atau Masyarakat Muslim Amerika), pengganti Nation of Islam, yang lebih dikenal sebagai Black Muslim. Kelompok ini dipimpin oleh Warith Deen Mohammed. Tidak begitu jelas berapa Muslim Amerika yang mengikuti kelompok ini. Kepercayaan kelompok ini juga berbeda dengan kepercayaan Islam pada umumnya, mereka tidak mengenali Muhammad adalah Rasul Allah yang terakhir.
Kelompok terbesar kedua adalah Islamic Society of North America (ISNA atau Masyarakat Islam Amerika Utara). ISNA adalah suatu asosiasi organisasi-organisasi Muslim dan perorangan untuk mempresentasikan Islam. Kelompok ini dibuat oleh imigran, beberapa etnis Kaukasia dan sekelompok kecil Afro Amerika yang masuk Islam. Jumlah anggotanya baru-baru ini mungkin telah melampaui ASM. Konvensi tahunan ISNA mungkin adalah pertemuan Muslim paling besar di AS. Organisasi ini telah dikritik karena menyebarkan ajaran Wahabi dan karena memiliki hubungan dengan terorisme.
Kelompok terbesar ketiga adalah Islamic Circle of North America (ICNA atau Lingkaran Islam Amerika Utara). ICNA adalah kelompok Islam yang tidak memandang kesukuan, terbuka bagi semua, dan mandiri. Kelompok ini dibentuk oleh imigran, Amerika kult putih, dan Afro Amerika yang masuk Islam. Kelompok ini sedang tumbuh, dan juga bisa lebih besar dari ASM disaat sekarang. Divisi mudanya adalah Young Muslims atau Muslim Muda.
Islamic Supreme Council of America (ISCA atau Dewan Tertinggi Muslim Amerika) mewakili banyak Muslim AS. Tujuannya adalah menyediakan solusi-solusi bagi Muslim Amerika, yang berlandaskan hukum Islam. ISCA bekerja keras untuk mengintegrasikan ajaran Islam dalam memecahkan isu-isu zaman demi memelihara keyakinan Islam di tengah masyarakat yang sekuler.
Islamic Assembly of North America (IANA Himpunan Islam Amerika Utara), adalah suatu organisasi Muslim terkemuka di AS. Menurut situs mereka, di antara sasaran IANA adalah "mengkoordinir dan mempersatukan usaha-usaha dari dakwah yang berbeda, mengorientasikan organisasi (Islam) di Amerika Utara atau mengarahkan umat Muslim untuk bertahan pada metodologi Islam". Untuk mencapai sasarannya, IANA menggunakan sejumlah alat, metode, konvensi, rapat anggota, lembaga, institusi, akademi berorientasi dakwah, dan lain-lain.
Muslim Students' Association (MSA atau Asosiasi Pelajar-pelajar Muslim), adalah suatu kelompok yang diperuntukkan bagi pelajar Islam di perguruan tinggi Kanada dan Amerika Serikat. MSA juga sering dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, seperti pengumpulan dana untuk tunawisma selama Ramadhan.
Islamic Information Center (IIC atau Pusat Informasi Islam) adalah organisasi yang dibentuk untuk memberi informasi kepada publik, sebagian besar melalui media, seputar Islam dan umat Muslim.

E.     Minoritas Islam di Benua Afrika
Perjumpaan pertama masyarakat benua Afrika dengan ajaran Islam dapat di telisik dari tulisan Ibnu Ishaqtentang peristiwa hijrah.Seorang sahabat, Ja’far bin Abi Thalib, menjelaskan sedikit ajaran Islam pada raja Negus, penguasa kekaisaran Kristen Axum tentang persamaan ajaran Kristen Monophysit dengan ajaran Islam, termasuk didalamnya komentar Qur’an tentang kerasulan Yesus dan kesucian Bunda Maria yang mirip dengan paparan Injil Yohanes, Alkitab Perjanjian Baru. Walaupun misi hijrah sebenarnya adalah usaha umat muslim pertama untuk mencari suaka politik, -dan bersifat sementara, namun setidaknya inilah titik awal perjumpaan Islam dengan masyarakat Afrika, lebih tepatnya masyarakat Kristen Nestor Ethiopia, di Tanjung Afrika.
Bila di wilayah Kristen Nestor Ethiopia, Islam bertemu dengan jalan damai dan penuh wajah toleran. Maka lain halnya dengan perjumpaan Islam di wilayah Kristen Koptik Mesir, proses penyebaran ajaran Islam di Mesir terjadi setelah penaklukan militer oleh bangsa Arab yang di pimpin oleh Amr bin Ash (642 M), gubernur atau emir wilayah Palestina, di masa pemerintahan Umar bin Khattab (644 M). Islam cepat tersebar di Mesir sebagai akibat dari proses arabisasi Afrika Utara yang juga terjadi secara bersamaan. Kondisi ini menjadi faktor utama kaum Muslim hingga menjadi penduduk mayoritas di Mesir Koptik pada pertengahan abad ke-10, akulturasi budaya yang sangat cepat antara Mesir Koptik dengan kultur Arab sebagai identitas kebudayaan baru, di kemudian hari menggantikan kebudayaan kultur Koptik dan penggunaan bahasa Yunani Alexandrian dengan budaya dan bahasa Arab sebagai sole vernacular (jaringan system sosial baru sebagai urat nadi kultur universal masyarakatnya). Sekalipun demikian, pertemuan antara Islam dan Kristen Koptik sempat terjadi dalam ruang sosiokultural, -bahkan terjadi sebelum penaklukan Mesir oleh Amr bin Ash, yakni sesaat setelah penaklukkan Mekkah (Fathu Makkah), Nabi menerima seorang budak wanita Koptik Mesir bernama Maria binti Syam’un al-Qibtiya al-Mishriyah -yang kemudian beliau jadikan istri- dari Juraij ibn Miyna al Muqauqis, gubernur kekaisaran Byzantium di Alexandria, Mesir.
Menariknya, kemenangan pasukan Islam di Mesir Koptik justru memberikan ruang kebebasan beragama bagi umat Kristiani, sehingga mereka dapat memanggil kembali para patriarch Monophysit untuk memimpin mereka dalam liturgy dan ekaristi Gerejani Iskandariah Mesir (sebelumnya ajaran Monophysit di pandang sebagai bid’ah penyimpangan ajaran Kristiani oleh para patriarch Kristen Ortodoks Timur di Byzantium pada Konsili Kalsedon pada 451 M sebab memandang Yesus Kristus, “sebagai inkarnasi kudus Allah Putra atau Firman/Logos dari Allah Bapa, yang hanya memiliki satu sisi “personae/pribadi,” entah itu ketuhanan sepenuhnya atau sintesis dari ketuhanan dan kemanusiaan sepenuhnya). Amr bin Ash dan armada pasukan muslim hanya melepaskan kendali politik Byzantium atas Mesir Koptik, pada akhirnya kota Iskandariah justru menjadi kota dengan komunitas religius yang jauh lebih heterogen dan lebih toleran dari pada saat kota Iskandariah berada dalam pengawasan Byzantium.
 Mesir Koptik benar-benar lepas secara politik dari kendali Byzantium tepat saat pasukan muslim pimpinan Abdullah Ibn Sa’ad menginvasi Tunisia dari tahun 647-648 M, dan kemudian di lanjutkan oleh jenderal muslim Uqba Ibn Nafi pada tahun 670 M, 2 tahun setelahnya (672 M) Uqbah Ibn Nafi mendirikan kota Qairawan / Kairouan di Tunisia dan membangun Masjid Besar Qairawan atau di kenal sebagai Masjid Uqba, salah satu dari jajaran masjid tertua di awal kedatangan Islam di Afrika. Qairawan berperan sebagai pusat administrasi militer di kawasan Afrika Utara setelah Damaskus di Syiria, dan membentang di sepanjang wilayah Libya Barat, Tunisia, dan Aljazair Timur.Usaha penaklukkan Afrika Utara dilanjutkan oleh Zuheir akibat Uqba Ibn Nafi terbunuh oleh gabungan pasukan Romawi-Berber pada pertempuran Biskra, wilayah pesisir Tunisia Utara hari ini, pada tahun 682 M.
Oleh karena itu pada masa khalifah ke-5 era bani Umayyah, Abdul Malik Ibn Marwan pada tahun 689 M melihat sebagian besar Afrika Utara telah ditaklukkan oleh pasukan Berber muslim dan sepenuhnya lepas dari kontrol Bizantium, sehingga dibagilah Afrika Utara menjadi tiga propinsi emirat yaitu; Mesir Koptik dengan ibukota emiratnya di al-Fustat; Ifriqiyaatau Tunisia dengan ibukota emiratnya di Qairawan/Kairouan dengan Musa Ibn Nusayr sebagai emir, dan Maghribi –Maroko saat ini, dengan ibukota emiratnya di Tangiers. Kemudian, Musa Ibn Nusayr menggunakan cara persuasive dalam memperkenalkan Islam pada bangsa Berber di Afrika Utara, ia mencoba lebih toleran dan menghormati kebudayaan animis bangsa Berber serta melakukan upaya diplomatic untuk meyakinkan bangsa Berber bahwa kedatangan bangsa Arab bukan untuk menghancurkan mereka, melainkan untuk melepaskan mereka dari cengkeraman Bizantium, seperti halnya Tunisia. Upaya Musa Ibn Nusayr berhasil dan menyebabkan separuh populasi etnis Berber di Afrika Utara masuk Islam, bahkan sebagian besar dari mereka menjadi pejabat public emirat Ifriqiya di ibukota Qairawan tanpa harus melepaskan keyakinan tradisinya. Tidak hanya itu, mayoritas armada militer suku Berber memilih untuk bergabung dengan pasukan militer emirat Ifriqiya, Tunisia. Kehebatan dan kepopuleran pasukan Berber di kawasan Afrika Utara dan keunggulan mereka didepan pasukan Byzantium, menyebabkan Tariq Ibn Ziad (pemimpin kabilah Berber Zenata) dan pasukannya terus dipergunakan oleh kekhalifahan Umayyah dalam upaya penaklukkan Al-Andalusia, Spanyol pada tahun 711 M.
Belum pernah ada sebelumnya penakluk suku Berber di Afrika Utara semacam Musa Ibn Nusayr yang berupaya berasimilasi dan berakulturasi dengan adat dan kultur animisme dinamisme mereka. Akibatnya ajaran Islam sukses berkembang dan banyak di peluk di kawasan Libya pesisir, Afrika Utara, dan bila tidak dengan bantuan mereka, mustahil Andalusia Spanyol dapat bergabung dalam kekhalifahan Umayyah. Pada awalnya hanya suku-suku Berber di pesisir Libya, Afrika Utara, yang bergabung dan memeluk ajaran Islam, tetapi kemudian penetrasi ajaran Islam menyebar jauh hingga pedalaman gurun Sahara.
 Proses masuknya Islam ke Afrika Utara sempat terhenti pada tahun 680 M, akibat terbunuhnya cucu Nabi, Husein Ibn Ali dalam peristiwa Karbala, yang mengakibatkan pemberontakan sipil disekitar wilayah Arab dan Syiria, antara pendukung ahlul bait (kelak menjadi kelompok Syi’ah) dan pendukung status quo dari penerus monarkhi Umayyah, Yazid Ibn Muawiyah Ibn Abu Sufyan. Pemberontakan sipil terhadap kekhalifahan Umayyah ini mengakibatkan 4 kali pergantian khalifah dalam kurun waktu lebih kurang dari 5 tahun antara tahun 685 M (tahun meninggalnya khalifah Muawiyah Ibn Abu Sufyan) hingga pada tahun naiknya khalifah bani Umayyah ke-5, Abdul Malik Ibn Marwan (Al Walid I) pada 685 M, sekalipun pemberontokan kelompok minoritas Syi’ah belum mereda sepenuhnya hingga tahun 692 M saat pemimpin ke-4 Syi’ah, Imam Ali Ibn Husein (Imam Zainal Abidin) terbunuh oleh racun Hisham Ibn Abd Malik atas instruksi khalifah Al Walid I.
Terlepas dari pergerakan Syi’ah di jantung kota kekhalifahan Umayyah, umumnya konsensus sejarawan Eropa memandang bahwa penaklukkan Afrika Utara oleh kekhalifahan Umar hingga kepemimpinan bani Umayyah dari tahun 647 M hingga 709 M telah sepenuhnya mengakhiri dominasi Katholikisme di Afrika untuk beberapa abad sesudahnya. Akan tetapi, tidak semua sejarawan berpendapat demikian, justru belakangan ini muncul bukti baru tentang keadaan sosial riil di Afrika Utara kala itu, detail nuansa keberagamaan masyarakatnya yang lebih toleran –masih aktifnya ritus ziarah ke makam santo-santo Katholik diluar wilayah Kartago hingga tahun 850 M; dan bukti masih adanya komunikasi dan interaksi dengan gereja Katholik di Andalusia Spanyol; serta adanya bukti tambahan bahwa saat Gereja Katholik Roma (Rome patriarch) melakukan reformasi kalender Gregorian dan diadopsi oleh seluruh negara Eropa, di saat yang sama pemeluk Kristen Monphysit di Afrika Utara tidak menerapkan system kalender yang telah di rubah akibat tiadanya kontak dengan keuskupan Roma (Italia), dan beberapa penyebab sosial mengapa masyarakat Kristen Afrika beralih memeluk Islam.
Selama masa kepemimpinan khalifah ke-6 Umayyah, Umar II, emir Ifriqiya yang selanjutnya, Ismail Ibn Abdullah, dikabarkan telah “menaklukkan” bangsa Berber dengan memberlakukan administrasi yang cenderung longgar dan toleran, serta akibat dari para penyebar awal ajaran Islam pada masyarakat suku Berber, termasuk salah satu di antara mereka adalah Abdullah Ibn Yasin yang sukses membuat ribuan bangsa Berber memeluk Islam.
Di bagian lain benua Afrika, khususnya Tanjung Afrika, sejarah munculnya kontak perdagangan dan intelektual antara penduduk asli daerah pesisir Somalia dengan Jazirah Arab mungkin bisa menjelaskan sejarah pertemuan ajaran Nabi dengan penduduk asli Somalia. Sebagaimana dipaparkan pada paragraf pertama pada bab ini, kaum Muslim awal yang berhijrah ke kekaisaran Kristen Axum di Ethiopia, pertama kali berlabuh di pelabuhan dekat kota pantai Zeila yang berlokasi di bagian utara Somalia demi mencari suaka politik atau perlindungan dari suku Quraisy. Beberapa orang dalam rombongan hijrah yang pertama tersebut diberitakan, “mendapatkan perlindungan dan diizinkan untuk menetap di beberapa tempat sepanjang wilayah pesisir Tanjung Afrika (Somalia Utara) untuk memperkenalkan ajaran Islam pada penduduk setempat.” Kemenangan Muslim atas suku Quraisy pada abad ke-7 dalam peristiwa Fathu Makkah berdampak signifikan pada para pedagang dan pelaut local di wilayah pesisir utara Somalia, -sebagaimana mereka sejak masa lalu telah menjadi partner perdagangan bangsa Arab, logis bila kondisi ini kemudian mempengaruhi mereka untuk memeluk Islam.
Sampai beberapa abad selanjutnya, perdagangan di kawasan Laut Merah dan Laut Mediterania berada di bawah pengaruh kekhalifahan Islam untuk waktu lama. Melalui jalur perdaganlah, ajaran Islam tersebar ke Somalia khususnya di sepanjang kota yang berada di pesisir. Dikemudian hari, saat terjadi instabilitas politik-sosial di Jazirah Arab, terjadi gelombang migrasi keluarga-keluarga Muslim awal (keluarga bani Alawiyyin, para pendukung ahlul bait – pengikut Ali) ke wilayah pesisir Somalia. Kedatangan kabilah-kabilah ini menjadi puncak katalis kedatangan bangsa Arab, dan menjadi era percepatan penyebaran Islam di Tanjung Utara Afrika.
 Pada akhir abad ke-8, (era 800-an M), sejarawan muslim Umayyah, Al Ya’qubi menulis bahwa keluarga-keluarga Muslim memiliki tempat tinggal tetap di sepanjang kota pelabuhan di pesisir utara Somalia. Ya’qubi melanjutkan, bahwa terdapat kesultanan Adal dengan ibukotanya di Zeila, kota pelabuhan Somalia, yang menegaskan bahwa setidaknya di awal abad ke-9 M hingga abad ke-10 M telah terdapat kesultanan Adal Islam di Somalia dengan Zeila sebagai ibukota perbentengannya. Menurut Lewis, pemerintahan Adal di pegang oleh dinasti local yang terdiri dari bangsa campuran Arab-Somalia, serupa dengan pola pemerintahan kesultanan Islam Mogadishu di Benadir, wilayah selatan Somalia. Sejarah kesultanan Adal diliputi oleh perebutan suksesi politik dan militer dengan tetangganya kekaisaran Kristen Ethiopia pada abad ke-14 M hingga abad ke-16 M atau di era penjelajahan (exploration age).















DAFTAR PUSTAKA

J.Siboro, 1989, Sejarah Australia, Bandung :Penerbit Tarsito.
Arthur Clark, 1988,Camels Down Under, Saudi :Aramco World.
Ali Kehtani,  2005, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini, Jakarta: PT. Rajawali Grafindo.
Cesar A. Majul, 1989,  Dinamika Islam Filipina, Jakarta : LP3ES.
Surin Pitsuwan, 1989, Islam di Muangthai Nasionalisme Melayu Masyarakat Patan, Jakarta : LP3ES.
Ensiklopedi Tematis Dunia Islam ( Jilid 5), 2002,Islam di Asia Tenggara,  Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.















[1] J Siboro,Sejarah Australia,Tarsito,1989 hal 37



[2] Ibid hal.146



[3]Ibid hal. 8



[4] J Siboro,Sejarah Australia,Tarsito,1989 hal 15



[5]Arthur Clark Camels Down Under “..2006 Saudi Aramco World,hal 19

[6]Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid 5 Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 457.



[7]Ibid, hlm 458.

[8]Surin Pitsuwan, Islam di Muangthai Nasionalisme Melayu Masyarakat Patan, (Jakarta: LP3ES, 1989), hlm. 3.

[9]Cesar A. Majul, Dinamika Islam Filipina,( Jakarta: LP3ES, 1989), hlm. 2.

[10]Ali Kehtani, Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini, (Jakarta: PT. Rajawali Grafindo, 2005), hlm. 216.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar